Tahun Kesedihan

Tahun kesedihan.. tahun kesedihan?

Ya, kalau Rasulullah punya tahun kesedihan pas istri kesayangannya, khadijah, meninggal dunia. Gue juga punya. Tapi bukan karena istri gue meninggal (punya aja belom). Karena gue menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan2 ga berguna yg berakibat hilangnya berbagai kesempatan2 emas yang besar.

Pertama, ditolaknya gue dari beberapa program beasiswa ke Jepang, ga terpilih lomba karya tulis, ga jadi berangkat ke Bogor, ga jadi berangkat ke Bali.. Terus, turunnya IPK gue yg menyebabkan gue perang dingin ama orang rumah, (hiks).

Setelah gue “menghisab diri” atau bahasa kerennya introspeksi diri (intro= ke dalam, speksi= melihat. Jadi melihat ke dalam). Pertama, time management kali yaa. Gue masih suka bolong2 sholatnya, masih suka nunda2, dan suka males. Parah banget kan? Astaghfirullah.. Kedua, follow the rules! Gue sering ngelanggar dengan sengaja aturan2 lomba. Misalnya kayak jumlah tim maksimal 3 orang. Kita bikin berempat.

Itu ceritanya karena emang berempat sih yg bareng2 bikin tuh progress. Dan kurangnya skill di salah satu anggota team. Kaya misalnya gini, gue udah bilang ke salah satu anggota team sebelum bikin suatu lomba ke Mr. X, “bro, coba ntar elu cek ketentuan2nya kaya apa? jumlah maksimal anggota team? Terus formatnya gimana?” Mr. X: “Oke broo..!” Dan dengan “bodohnya” gue ngelepas tanggung jawab dan maen percaya aja. Beberapa hari kemudian gue nanya, “gimana bro? udah lo cek?” Mr. X bilang dengan polosnya, “udeeh.. kayanya ga ada apa2, format bebas. Tim lebih dari 3 orang. “Ohh..”, respon gue dengan polosnya. Nah, pas hari pengumpulan karya, baru sadar kalo jumlah team itu 3 orang, ga boleh kurang dan ga boleh lebih. Dan punya formatnya sendiri2. Kaya jumlah halaman yg kita bikin maksimal 15 halaman, eh, kita bikinnya sampe 40 halaman. Apa ga emosi tuh juri?

Lanjut ke beasiswa Jepang.. Gue ngikut beberapa seleksi beasiswa ke Jepang, 3 seleksi dan hasilnya gatot! Oh, Tuhan.. cobaan apa lagi ini..? (sigh). Alasan yg pertama gue gak keterima, yg pertama dan yg utama yaitu anggap remeh. Penting banget dan bener2 parah efeknya! Sesuai kata pepatah, Orang bisa kepleset karna batu kerikil yg kecil, bukan karna batu guede yang besar. Ya kira2 begitulah kata pepatah. Gue terlalu anggap remeh ttg jumlah peserta seleksi which is saingan gue yg pada akhirnya gue tau, parah, banyak banget!!

Alasan kedua, dan masih belom ilang2 yaitu time management. Gue dulunya suka mengerjakan sesuatu pada saat mendekati deadline. Misalnya pengumpulan terakhir tanggal 25, eh, tanggal 25 baru gue kumpulin tuh karya. Alhamdulillah, sekarang udah sedikit mulai ilang kebiasaan buruk itu. Apapun tugas2 gue, gue ga akan ngebiarin mereka numpuk! Gue bakal kerjain sampe selesai sebelum deadline!

Ketiga, gue masih suka males ntuk beribadah. Males sholat, males ngaji, pokoknya males yg kali ini bener2 males parah.. Beda dengan taun lalu, gue alim2nya beribadah. Kayaknya setan yg misinya nyesatin gue taun ini semakin besar dan semakin rame. Setan yg biasanya level cupu, sekarang setan yg nyesatin gue levelnya udah advance. Udah senior tuh setan atau udah S3 kali dalam menyesatkan manusia. Dan kayaknya godaan paling berat itu pas di kosan. Dan semua anak kosan pernah mengalaminya. Yaitu mager. Malas gerak! Masyaallah.. beratnya setan yg tidur nimpa gue sehingga gue kadang2 ketinggalan atau telat sholat subuhnya. Astaghfirullah.. jangan ditiru ya! 🙂

Berdasarkan kisah di atas, dapat gue ambil hikmah yaitu, yang pertama, jangan suka jadi deadliner! Walau orang bilang jadi deadliner itu ada keasyikan tersendiri dgn memacu adrenalin, tapi bagi gue, jangan! Kedua, rajin2lah berkumpul dengan orang sholeh, rajin baca atau nonton video2 islami atau motivasi. Dengan begitu akan membuat semangat kita beribadah lebih joss! Dengan begitu, kita akan terhindar dari yg namanya mager itu tadi. Yang ketiga, mandiri! Soekarno pernah mengajarkan, Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berdikari, mampu berdiri di bawah kakinya sendiri. Kurang lebih begitulah kata beliau. Begitu juga dengan personal development, diri kita ibarat suatu negara dan kita sendiri lah rakyatnya. Baik atau buruknya kita, itu semua bergantung dari kita sendiri, bukan orang lain. Jadilah proaktif! Bagi yg masih belom ngeh sama istilah proaktif, gue saranin baca buku 7 Habits-nya Stephen Covey. Bagus lho! Buku terbaik sepanjang masa, katanya.

Dan resolusi gue untuk menutup akhir tahun yang menyedihkan ini, mudah2an gue bisa punya soft skill yang oke, punya karakter yang oke, dan jago dalam memenejemen waktu. Karna waktu adalah acuan kehidupan kita. Allah SWT saja pernah bersumpah terhadap waktu. Siapa sih manusia yang bisa ngalahin waktu? Kata Ariel Noah, kita tak akan bertahan melawan waktu. Siang berganti malam, malam berganti siang; Kita bakal menua, mati. Waktu terus berjalan bahkan ketika saya menulis blog ini dan kalian membacanya (moga2 dibaca). Tapi, kita bisa mengakalinya dengan menjadi lebih cerdik terhadapnya. Cara cerdiknya gimana? gue saranin baca buku 7 Habits-nya Stephen Covey, oke 🙂

Terakhir, mudah2an kita semua diberi kekuatan oleh Yang Maha Kuasa dalam menjalani kehidupan ini dan mencapai cita, cinta, dan harapan kita. Semoga diberi kemudahan dan Allah mengabulkannya, aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s