Puisi di tengah pagi

bodoh

kau sekali lagi bodoh

melakukan sesuatu yang bodoh untuk kebodohan

tunduk pada maha bodoh dan menjadi budaknya

tidakkah kau berpikir di seberang sana ada bidadari kecil yang menantimu?

apakah kebodohan ini menutup matamu?

mata hatimu?

mimpi-mimpimu, mana semua mimpi-mimpimu?!

apakah kau tak percaya lagi padanya?

apakah kau lelah berdoa kawan?

apakah kau sedang menunggu kematian?

kau pasti mati kawan

tapi, apakah kau mau mati sebelum menemui malaikat kematian?

bahkan malaikat kematian pun rela menunggumu

untuk menemuinya

namun, sabar ada batasnya kawan

kenapa kau menjauh dari Sang Fajar?

apakah kau menutup telingamu terlalu rapat?

sesungguhnya kita tersesat kawan

tersesat dipikiran kita sendiri

maukah kita bekerja sama?

setidaknya sekali ini saja

setelah itu kau boleh pergi kawan

pergi kemanapun kau mau

katanya kau rindu sekali melihat bunga sakura, bukan?

kau juga rindu embun malam yang meniup lehermu, bukan?

di tengah simpang dunia

tanpa kau, siapalah aku ini?

aku hanya bangkai yang bergerak

tak lebih dari itu

sesungguhnya aku lelah menuruti kelakuan bodohmu itu

entah sampai kapan

ku mohon, kawan terbaikku..

hentikanlah

hentikanlah keraguanmu

mari satukan langkah kita

kau mau ke situ, kan?

bukannya ke situ, kan?

aku percaya padamu kawan

sungguh tak ada yang paling percaya padamu selain aku

lalu, ambillah pensil ini

tulislah kekuatanmu di sini, di hatimu

sebelum kau mati

atau sebelum dia mati

mati meninggalkanmu

wahai damai..

kemanakah engkau pergi?

temankan kami di sini

tentang cinta yang tak letih

tak perlu menangis lagi

biarkan kita menari, sampai nanti, selamanya

wahai kau yang di sana

aku bersumpah dengan seluruh sisa umurku ini

bahwa aku akan ke sana ‘tuk menatap kedua mata indahmu

lebih dalam

sampai ke hati

aku yakin ini bukan ilusi optik

yang bayanganmu terdifraksi ke kedua bola mataku ini

kau hancurkan ilusi ini

kau tampar kedua pipi ini dengan kedua tanganmu

dan mengatakan

“ini nyata! Sungguh, kau telah sampai..”

Lalu kau menangis di pundakku

dan memelukku

Oh, Allah..

rasanya sungguh indah..

aku bahkan rela menukar surga ku untuknya

tapi sayang, apakah yang itu tadi juga ilusi?

ilusi dibalik ilusi?

delusi abstrak yang seolah nyata

entahlah..

tapi, aku masih punya sahabat yang setia mengatakan kepadaku

“itu akan menjadi kenyataan”

begitu katanya

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s