Awal dari perjalanan 3000 mil

Hari ini saya mengirinkan sebuah dokumen bersejarah yang akan menentukan nasib kehidupan saya dalam sepuluh hingga lima belas tahun kedepan. Semoga hasilnya berkah dan Allah SWT meridhoi ikhtiar saya ini, Allahumma amin.

Saya tersentak dari buaian mimpi. “Oh, tidak! Sudah jam 12 siang!!” lirik ku pada jam dinding di depan tempat tidur. Lalu ku lirik pada jam tanganku. “Ternyata masih jam 11 siang..” Bagi yang belum tahu, jam di dindingku satu jam lebih cepat. Niatnya supaya saya bisa bangun lebih awal dan lebih sigap. Well, that is stupid strategy, perhaps.

Tanpa mandi, lalu ku kayuh sepeda motorku menuju kantor pos Kertajaya. “Tidak ada waktu lagi! Nanti bisa terlambat!!” Bisik ku dalam hati. Kalau terlambat sehari saja, bisa kacau semuanya.

Hari ini aku akan mengirimkan dokumen beasiswa ke Jepang. Berdasarkan info yang aku dapatkan di facebook, amount of time from Denpasar to Tokyo is 3 or 4 days. “Kalau dari Surabaya bisa-bisa lebih lama lagi..” Begitu pikirku.

Akhirnya aku sampai di depan kantor Pos Indonesia. Sehari sebelumnya aku sudah ke sini. Namun sayang, I was late and it was already closed.

Saya memilih Pos Indonesia juga karena rekomendasi di facebook. Juga dari browsing kecil2an di google. Alasan saya yang lain adalah karena ongkos kirim ke Jepang melalui Pos Indonesia adalah yang termurah dari jasa-jasa pengiriman yang lain. Kalau FedEx dan DNL harganya terlalu mahal sekitar 375 sampai 500 ribu rupiah untuk dokumennya. Saya juga searched di internet, kalau Pos Indonesia relatif lebih aman karena memiliki mitra di hampir seluruh negara! Dan di tiap kota di negara itu ada kantornya. Hmm.. pretty safe.

Sepeda motor saya parkir di depan kantor pos. Pak parkir mengarahkan motor saya di pinggir jembatan selokan depan kantor itu. Saya lalu turun dari sepeda motor. Saya geser spion saya, melepas kacamata saya, saya berkaca, merapikan rambut dan mengucek-ngucek mata, lalu mengelap wajah yang berminyak karena siang itu panas sekali. Fyuuh..

Tampak cukup ramai pengunjungnya dan petugas pos rasanya sibuk sekali. Saya menghampiri mas pos (panggilan petugas pos). “Permisi mas, saya mau mengirim paket pake EMS,” sambil saya menyerahkan dokumen bersejarah itu. “Kemana mas? Oh, Japan!” kata beliau sambil melihat alamat pada dokumen saya. Saya lalu diminta mengisi form pengiriman.

Sambil mengisi form itu, saya memperhatikan kondisi sekitar. Kantor itu sangat sederhana, ukuran 5×7 meter dengan penuh tumpukan paket di dalamnya. Saya memperhatikan mas pos yang sibuk menulis kertas-kertas pos. Ia masih muda, styled rapi dengan jam tangan swiss army, dan wajahnya yang mirip-mirip artis sinetron. Saya jadi berpikir kalau tampang tidak menentukan “nasib” pekerjaan seseorang. Tampang juga tidak menentukan pasangan. Toh banyak yang punya tampang kurang sedap dipandang tapi bermobil bmw atau merci dan beristri bak model. Saya juga teringat dengan penulis terkenal, Andrea Hirata, yang lulusan UI dan penulis terkenal. Sebelum dia berangkat ke Perancis, dia sempat berkarir di kantor pos sebagai petugas pos. Saya juga teringat tentang sutradara terkenal dari film titanic dan avatar yang dulunya supir bus sekolah. Karir kamu hari ini belum tentu karir kamu besok. Masa depan masih panjang dan masih bisa diubah. Sehingga saya tidak men-judged rendah mas pos itu. Coba saya diposisi mas pos itu, nah loh??

Setelah itu, “berapa mas?” “135 ribu mas,” kata mas pos itu.
“Kapan sampainya mas?”
“Tiga hari”
“Oh, murah sekali,” kata ku dalam hati. Untuk ongkir dokumen dari Kepulauan Riau ke Surabaya dalam tiga hari sebesar 70 ribu. Sedangkan ke Jepang yang jaraknya lebih jauh harganya tak terpaut jauh. Padahal aku sudah mempersiapkan uang 500 ribu rupiah di dompet buat ongkir.

Akhirnya dokumen-dokumen itu saya percayakan ke Pos Indonesia untuk dikirim ke Shinjuku, Tojyo, Japan. Shinjuku? Seperti tulisan di kaos polo ku yang menarik perhatian banyak orang untuk membacanya lalu mengatakan “shinjuku.. wah, ham, mau ke Jepang?” begitu. Mudah-mudahan Allah mentakdirkan saya busa berangkat ke sana segera dan belajar di sana. Belajar ilmu pengetahuan dan ilmu kehidupan. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s