Pengalaman diwawancara oleh tiga professors Jepang.

Cappucino Latte Grande
Cappucino Latte Grande

Di tengah cafe starbucks ini saya duduk dikelilingi orang-orang yang berbahasa mandarin dan bahasa Inggris logat singaporean. To be honest, singaporean accent is weird. Berulang kali saya bilang, “pardon?” karena pronunciation mereka yang hukumnya ikhfa (samar-samar). Samar-samar saya juga mendengar suara wanita dengan logat melayu. Ah.. sungguh indah. Sudah lama saya tidak mendengar logat bahasa melayu yang indah.

Saya duduk di sini bukan karena haus dan bukan karena gaya-gayaan. Tapi karena batre hape ini lowbat dan saya sulit survive di sini kalau divice ini padam. Sehingga saya numpang ngecas dan bermodalkan segelas caffe latte grande. So, that’s it.

Well, saya mau berbagi cerita di sini. Semoga bermanfaat. Tadi saya baru selesai melakukan wawancara dengan professors Jepang. Baru beberapa saat yang lalu. Dan euphoria-nya masih terasa. Betapa tidak, tak pernah terbayangkan oleh saya akan merasakan pengalaman ini. Bagaimana ceritanya? Simak yaa.. hehe

Saya tersentak bangun ketika pintu masuk bergerak terbuka. Seorang japanese laki-laki membangunkan mata saya yang terpejam dan menghilangkan buaian musik klasik di telinga saya. Ya, saya tertidur di sebuah perpustakaan yang semua isinya berbahasa jepang. Bukan tujuan saya untuk sok-sokan membaca lautan kanji dalam sebuah buku, tapi saya sedang menunggu giliran saya untuk interview sebuah perguruan tinggi.

“I think we are ready” kata japanese man itu yang memecah lamunan saya.

“So, this is it? Here we go..” sambut saya yang setengah sadar.

Saya sudah hadir lima puluh menit lebih capat dari jadwal yang ditentukan. Walhasil, saya harus menanggung konsekuensinya, menunggu.

Setelah membereskan tumpukan buku-buku di atas meja saya -sebenarnya saya hanya melihat gambar-gambarnya saja kalau boleh jujur, saya tak begitu paham huruf-huruf kanji. Kalau hiragana dan katakana, bolehlah.. :D- Saya digiring masuk ke sebuah ruangan yang berukuran 5×9 meter yang serba putih. Saya lalu dipersilahkan duduk oleh si mas Jepang itu, lalu dia pergi menginggalkan saya sendiri di ruangan itu.

Saya duduk sembari melihat pintu itu ditutup oleh si mas Jepang. Lalu saya tolehkan kepala saya dan BAM! There was a big full HD screen with a big camera on it. Mata saya langsung tertuju kepada tiga orang di dalam layar besar itu. Di sebelah kiri dan kanan saya adalah bapak-bapak berambut hitam yang berumur empat puluhan. Dan di tengah adalah seorang bapak berambut putih yang berumur sekitar enam puluhan. I knew him! I’ve seen him on the website.. Dia si Dean. Mereka adalah professor-professor Jepang yang terbaik dalam bidangnya. Mereka akan mewawancarai saya. Tidak, menghakimi saya!

Mereka bertanya banyak hal. Tentang motivasi, mimpi, Jepang, passion, robot, apapun! Bahkan mereka menyuruh saya menjawab calculus and physics problems. Untungnya, saya sering mengikuti kuliah online di ocw.mit.edu enam bulan terakhir. Sehingga alhamdulilah, semua bisa jawab dengan tegas plus ditambah senyuman di akhir penjelasan saya bak orang Indonesia yang murah senyum.

Awalnya saya sedikit nervous. Yang saya takutkan adalah pronunciation saya. Saya takut mereka agak kesulitan mencerna statement saya. Namun setelah mendengar ketiga professors itu berbahasa inggris, saya tiba-tiba jadi berani. Betapa tidak, ternyata pronunciation mereka juga bukan native speaker, kok. Accent mereka seperti orang-orang jepang pada umumya yang berbahasa inggris pada reality show Jepang yang pernah saya tonton. Samar-samar! Walhasil, saya tak perlu takut kalau accent saya bukan native speaker seperti bule-bule Eropa. Yang penting, hajar black..!! Hehe

Saya bercerita banyak hal. Saya menjawab semua pertanyaan mereka spontaneously. At that time, no more drama. I just split it out. Mereka pun sering merespon jawaban saya dengan jawaban “excellent” atau “very good”. Saya jadi teringat pesan-pesan sponsor dari alumni yang pernah kuliah di Jepang bahwa Jepang itu sangat menghargai effort kita. Walau pun salah, mereka akan tetap bilang “that’s good, ganbatte ne” begitu kata kakak-kakak alumni.

Awalnya, wawancara berlangsung datar dan menegangkan bak sidang skripsi. Namun itu semua berubah setelah negara api menyerang saya selalu tersenyum dan menjawab dengan ramah. Walhasil, mereka enjoyable dalam bertanya kepada saya. Bahkan sesekali meledakkan tawa. Tak terasa dua puluh lima menit sudah waktu berlalu. Sebelum wawancara usai, mereka memberikan saya kesempatan untuk bertanya. Saya bertanya, “What do you think about Indonesia?” They just smile and started to answer, “Indonesia ia a great country. It will grow richly because they have a great young people.” That’s it. Itu yang saya ingat dari apa yang mereka katakan.

“Is there any question?” tanya mereka lagi.

“Have you been in Indonesia?”

“Ya pernah, tapi transit doank. Di Jakarta.” Jawab mereka sambil senyam- senyum. Rasain lo, kali ini giliran gue yang wawancarain. Hehe.

“Is there any question anymore? Okay, because the time is up, we think it’s enough. Thank you very much for your kind attention.” Kata si bapak yang paling kanan.

“Oh, okay” respon saya sambil melirik jam tangan saya. “It’s good to see you Sir” Sapa saya lalu pergi.

“It’s good to see you too”

Sembari saya bangkit dari kursi dan meninggalkan ruangan berlayar guede itu, saya mendengar mereka senyam-senyum sambil berbahasa Jepang. I didn’t catch what their mind. Tapi saya faham satu frase yang mereka sebutkan. “Muzukashii desu ne” atau yang artinya “a bit tough” or “hard” or “difficult.” Apa pun itu saya menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Saya sangat bersyukur atas apa yang saya alami saat ini. Terbang ke sini hanya untuk beberapa jam rasanya tak pernah terbayangkan di kepala saya. Namun, Allah gave that to me. Alhamdulillah..

Saya harus terus berdoa dan berusaha. Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Saya masih punya sisa dua interview lagi di bulan May dan August. Dan saya masih punya hutang sertifikat TOEFL iBT yang siap ditagih kapan pun mereka mau. Saya harus terus berusaha. Saya tidak boleh mengecewakan orang-orang yang saya sayangi. I don’t care anymore what people said about anything. In this time, I just wanna try so hardly. For a sake of my love, for a sake of my country. Saya mohon tolong doakan saya. Terima kasih.

Advertisements

One thought on “Pengalaman diwawancara oleh tiga professors Jepang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s