44 Jam di Singapura – Jalan-jalan Men!!

Setelah menyelesaikan misi saya. Saya pun mau jalan-jalan sekedar refreshing sebelum balik ke Surabaya. Sebenarnya, saya mau saja berlama-lama di sini. Atau, saya juga mau pulang ke Balai, ke rumah saya, sekedar melihat keluarga saya di sana. Namun, apa daya. Senin saya UAS pula. Untuk itu, saya benar-benar memanfaatkan waktu saya yang tersisa ini dengan sebaik-baiknya. Ayo, simak perjalanan saya, onegaishimasu~ 😀

Karena kapok naik taxi, saya memutuskan menggunakan transportasi umum di Singapur. Seluruh dunia juga tahu bahwa transportasi umum di Singapura ini sangat-sangat rapi. Transportasi umum di Sungapura selain taxi ada MRT, LRT, dan SRT. MRT dan LRT sama-sama kereta api. Entah apa bedanya. SRT adalah bus mirip trans jakarta. Tapi ada yang bertingkat dan jalurnya tidak memiliki jalur khusus seperti transjakarta.

Kartu yang bisa digunakan untuk naik kereta dan bus. Bisa di top up dengan minimal 10 dollar singapura.
Kartu yang bisa digunakan untuk naik kereta dan bus. Bisa di top up dengan minimal 10 dollar singapura.

Untuk soal rute, jangan takut tersesat. Soalnya Singapura kecil banget. Dan untuk setiap rute sudah terpampang rapi dengan jelas yang menerangkan kereta atau bus berangkat jam berapa dan rutenya kemana saja. Jadi, naik transportasi umum di sini asyik banget!

Setelah dari wawancara, saya naik bus ini. Kebetulan haltenya di depan Shibuya School.
Setelah dari wawancara, saya naik bus ini. Kebetulan haltenya di depan Shibuya School.

Awalnya, saya ingin mengunjungi Merlion Park. Ya.. sekedar berfoto ria sore-sore ditiup angin sepoy-sepoy di pinggir laut. Pasti rasanya seger banget. Dari West Cost saya meluncur ke Clementi Mal di daerah Clementi. Saya mau ke sana untuk transit naik MRT.

Sesampainya di sana, saya lalu mencari stasiun MRT. Namun, turun hujan pula di tengah jalan. Saya mengurungkan niat saya untuk ke Merlion Park sore itu. Saya lalu berkeliling mall untuk membunuh waktu. Namun ada yang menarik di mall ini. Mall ini punya perpustakaan umum. Perpustakaan yang gede banget dan di dalam mall! “Gue ga pernah tuh liat perpus di dalam mall” sembari saya masuk untuk sekedar melihat-lihat. Di dalamnya banyak sekali buku-buku dari berbagai macam bahasa. Pengunjungnya juga padat. Namun, suasanya senyap sekali. Mereka semua tampak serius membaca. Padahal, di lantai bawah itu berisik sekali dengan banyak orang lalu lalang di area food court. Namun, perpustakaan ini di desain sedemikian rupa supaya agak kedap suara dengan karpet tebal. Mirip gedung bioskop lah.

Perpus yang nyaman banget! Kalo ada di Indo bakalan tiap hari gue nongkrong di sini.
Perpus yang nyaman banget! Kalo ada di Indo bakalan tiap hari gue nongkrong di sini.

Setelah puas berkeliling, tiba-tiba, handphone saya lowbat. Oh, tidak.. Saya lantas mencari-cari electricity plug untuk nge-charge. Soalnya sayang banget kalau nanti sudah tiba di Merlion Park lalu tak bisa mengabadikan momen. Tidak kunjung ketemu, saya langsung keluar mall mencari cafe hanya untuk ngecas. Akhirnya saya ketemu cafe itu.

Setelah batre pun penuh dan tampaknya hujan sudah mulai reda, saya lalu bergegas ke Merlion Park karena jaraknya yang cukup jauh. Lima puluh menit!

Kapan ya kita punya MRT yang oke?
Kapan ya kita punya MRT yang oke?

Sepanjang MRT saya cuman bengong. Kebanyakan orang-orang juga ikut bengong. Sesekali ada yang ngobrol, tidur, dan main game di ponsel mereka. Yang paling banyak adalah mendengarkan musik di headset (termasuk saya) atau nonton tv streaming di internet. Satu hal yang menarik di MRT ini. Kebanyakan perempuan di Singapura memakai memakai pakaian yang super sexy. Sampe susah saya bedakan mereka sedang telanjang atau bukan. Istilah menundukkan pandangan rupanya tidak berlaku lagi di sini. Soalnya “paha dada” dimana-mana. Jadi saran saya, kalau naik MRT mending merem atau lihat ke atas aja. Haha.

Ternyata kalau malam lebih indah :)
Ternyata kalau malam lebih indah 🙂

Akhirnya saya tiba di Merlion Park. Hampir tak ada yang berubah dari tempat ini semenjak terakhir saya mengunjungi tempat ini beberapa tahun yang lalu. Setelah sampai di sini, kami para turis melakukan ritual seperti biasanya. Yakni foto-foto dan makan-makan.

Udara di sini sama dengan udara di kampung halaman saya. Kelembapan udaranya, angin sepoy-sepoynya, pemandangan lautnya, semua mengingatkan saya tentang kampung halaman saya yang berjarak satu mil dari Singapura. Tiba-tiba jadi homesick.

Bersantai sejenak semilir angin sepoy-sepoy.
Bersantai sejenak semilir angin sepoy-sepoy.

Selain berkeliling di tepi laut, saya melihat ada maraton yang rame banget. Biasanya couple dan banyak juga bule-bule yang ikut.

Saya lalu puas berjalan berkeliling di sini. Walau masih ada satu yang kurang yaitu saya pengen berenang di atas Marina Bay Hotel. Pasti rasanya nikmat banget. Tapi kalo berenang sendiri gak asik. Jadi tunggu ada pasangan dulu lah, hehe.

Satu hal yang menarik buat saya. Saya menemukan starbucks di bawah jembatan Raffles dekat Singapore river. Walau pun di bawah jembatan, lingkungannya tetap bersih dan nyaman. Saya salut dengan Singapura yang sangat memanfaatkan lahan terbatasnya itu. Saya lantas bertanya-tanya di dalam hati, “Bisa ga ya Indonesia bikin kaya gini?”

Starbucks di bawa Raffles Bridge, sebelah Singapore river.
Starbucks di bawa Raffles Bridge, sebelah Singapore river.

Sembari menikmati gedung-gedung pencakar langit yang berhimpitan nan sesak, saya lalu menghadiri festival Run For Your Live Asia. “Oh.. jadi tadi ada yang maraton malem-malem itu lagi dikejar-kejar zombie ceritanya..” Acaranya seru banget, jadi mereka lari-lari dikejar zombies yang dandanannya unik-unik. Mereka juga harus melawati medan yang penuh lumpur. Sebelum melewati garis finish, mereka akan dihadang oleh zombies yang terinfeksi. Keren..

Salah satu peserta yang berperan jadi zombie yang terinfeksi.
Salah satu peserta yang berperan jadi zombie yang terinfeksi.
Masuk garis finish.
Masuk garis finish.
Zombies are coming!!
Zombies are coming!!

Setelah puas ketawa-ketawa ngeliat zombi-zombi palsu, saya lalu menuju ke panggung DJ. Buset, banyak banget bulenya (ya iyalah ini Singapur). Dan di sini lah keimanan gue mulai di uji kembali. Gila.. DJ-nya cewe men..

Rame gilaa
Rame gilaa
DJ-nya cewe bro!!
DJ-nya cewe bro!!

Setelah asik berajib-ajib berkeliling ria sambil foto-foto dan hari mulai pagi, kini tiba saatnya saya untuk pulang ke Boon Lay via MRT dari Esplanade station. Sekalian, saya pengen silaturahmi sama kulit durian. Esplanade-san, hisashiburi.. Namun, ternyata, tak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu..

Festival Jazz di Waterfront, Singapore.
Festival Jazz di Waterfront, Singapore.
Arsitektur kulit durian :)
Arsitektur kulit durian 🙂

 

Menikmati angin sepoy-sepoy
Menikmati angin sepoy-sepoy

Sungguh nikmat rasanya duduk di tepi laut, melihat laut, kena angin sepoy-sepoy. Ahh.. alhamdulillah..

Sudah pukul 11 malam, saya harus balik ke Boon Lay. Dari Esplanade station, saya harus naik MRT red line lalu transit ke green line. Total waktu tempuh adalah 50 menit. Sesampainya di Jurong Point, Boon Lay, waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 dan saya ketinggalan bus! Oh, tidak.. Saya sempat berpikir untuk tinggal di McD itu yang buka 24 jam non stop lalu pulang besok pagi. Syukur alhamdulillah, masih ada bus terakhir pukul 00.40 pagi. Haah.. senangnya.. itu artinya saya pulang telat pagi ini. Dan hasilnya, saya sampai di aapato pukul 01.30. Tapi ga papa lah dari pada nginep di McD. Sesampainya di aapato saya langsung sholat isya lalu tidur. Soalnya besok harus fit buat terbang ke Surabaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s