44 Jam di Singapura – Ongkos Taksi Setengah Juta Rupiah

Halo, ketemu lagi bersama saya, hehe. Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya selama 44 jam di Singapura. Misi utama ada di sini. Untuk yang bagian ini, saya akan membahas jalan-jalannya saja. Well, selamat berimajinasi ­čÖé

Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Juanda pukul 22.00 WIB menggunakan Tiger Airways. Alhamdulillah, saya duduk di tepi jendela pesawat. Sehingga pas malam ketika pesawat mau mendarat di Singapura, saya melihat lampu-lampu yang indaah sekali. Ibarat ada kumpulan bintang kelap-kelip di atas pulau. Saya tiba di Terminal 2, Changi International Airport pukul 00.00 WIB atau pukul 01.00 Singapore Time Zone. Awalnya saya berencana makan di bandara sembari menunggu pagi. Namun, saudara saya sudah menjemput saya di bandara. Saya pikir, “ah, bakalan di jemput pake mobil, nih. Bakalan bisa tidur di mobil.” Namun itu hanya sebatas angan belaka. Saudara saya menjemput dengan menggunakan MRT. Seperti tipikal Singaporean pada umumnya yang gemar menggunakan jasa transportasi umum mereka. Rasanya mereka ada kebanggaan tersendiri jika menaiki transportasi mereka yang terkenal itu. Lain halnya dengan Indonesia. Ah, sudahlah.. tidak perlu membanding-bandingkan mass transportation di negeri ini dengan negeri seberang.

Walau jam 1 pagi, masih rame aja.
Walau jam 1 pagi, masih rame aja.

Karena jadwal MRT berakhir pukul 00.00 maka mau tidak mau kami harus mencari alternatif lain. Karena saudara saya tidak bawa mobil dan MRT pun tak ada, tidaklah mungkin saya mengajak saudara saya itu untuk menginap di bandara. Sehingga saya pasrah dan ikut saja. Rupanya, kami menaiki taxi. “Wow, taxi!” Suatu kendaraan yang tidak murah memang. Lalu kami menaiki taxi dari Changi ke Boon Lay. Jaraknya jauh sekali, dari ujung ke ujung. Waktu tempuhnya juga satu jam. Benar-benar melelahkan.

Taxi-nya biasa saja. Seperti taxi kebanyakan. Tak jauh berbeda dengan Indonesia. Malahan jauh lebih bagus yang di Indonesia, lho. Soalnya kita punya lho taxi Merci dan bahkan Ferrari, hehe. Karena saya orang melayu, mudah saja bagi saya untuk beradaptasi. Rupanya si driver lebih senang menggunakan bahasa melayu ketimbang bahasa inggris. Driver ini adalah apek (lelaki cina paruh baya) yang saya panggil uncle. Di dalam taxi, kami ngobrol banyak hal. Tentang pemerintahan Singapura, Malaysia, sampai Indonesia pun juga. Sampai-sampai si supir tahu betul siapa Soeharto dan Pak Habibie. Sugoii.

Sesampainya di aapato (apartemen), taxi lalu berhenti. Lalu saya segera cabut keluar taxi.

Dan.. saudara saya bertanya, “ilham udah bayar?”

“Ehh..?” dalam hati saya berbisik, “kok gue yang bayarin?” Lalu saya mengambil dompet di saku lalu bertanya, “berape?”

Tak tanggung-tanggung, 50 dollar saya lenyap di satu jam pertama saya di sini!! “Oh, my God.. Salah strategi nih gue.” Saya jarang sekali naik taxi. Dulu waktu sebelum dibelikan sepeda motor waktu di Surabaya, saya kemana-mana naik taxi dan lebih sering patungan dengan teman-teman supaya lebih murah. Biasanya, dari Keputih ke Tunjungan Plasa sekali jalan tambang (ongkos dalam bahasa melayu) hanya lima puluh ribu rupiah. Pulang pergi, yah, habis cepek. ┬áDan itu bareng teman-teman bertiga atau berempat. Ongkos taxi termahal yang pernah saya bayar biasanya ongkos taxi dari Bandara Juanda ke kos saya yaitu 130 ribu rupiah. Jaraknya cukup jauh dan rentang waktunya satu jam. Namun, yang ini, saya benar-benar setengah ikhlas. Soalnya sayang banget 50 dollar saya cuman untuk bayar taxi. Lebih baik naik MRT dan sisanya dapat saya beli oleh-oleh. Hiks.

Namun, saya mencoba lebih mengerti. Biaya hidup di Singapura yang tinggi mungkin menjadi penyebabnya. Ya sudahlah. Saya ikhlaskan saja. Lalu kami memasuki rumah flat yang biasanya banyak menjadi pilihan warga Singapura untuk tinggal. Sesampainya saya di rumah flat itu, hati saya terbesit, “Ga semua orang tinggal di Singapura adalah orang kaya. Juga banyak kok orang susahnya.” Saya lantas teringat dengan kisah Merry Riana yang baru saya baca beberapa hari sebelum berangkat ke Singapur. Kisah orang “susah” Indonesia yang berhasil sukses di Singapura.

Hikmah dari cerita di atas.

Jika saudara kita menawarkan untuk menjemput kita, ada baiknya ditanya terlebih dahulu. Apakah ia membawa kendaraan pribadi atau menggunakan transportasi umum. Kalau rasa-rasanya tidak memungkinkan naik kendaraan pribadi mereka, sebaiknya kita menolak secara halus dengan alibi tidak mau merepotkan. Tapi kalau memang difasilitasi, ya, go head. Satu lagi, ga semua yang tinggal di Singapura hidupnya mewah dan menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s