44 Jam di Singapura – Waktunya Melanjutkan Perjalanan

Rasanya raga ini letih. Seharian raga bekerja tanpa protes dan tanpa henti. Demi asa dan cita yang harus diraih dengan tangan sendiri. Tak peduli, tak menunggu nasib kembali.

Hari Minggu saya harus terbang ke Surabaya. Karena Senin ada UAS. Padahal Selasa libur karena maulid Nabi dan ternyata senin itu tidak ada UAS saya. Oh, no.. Namun tak apa lah. Ini lebih dari sekedar cukup. Pengalaman yang Allah kasih ke saya dengan sangat manis. Seharusnya saya harus semakin rajin beribadah kepada Nya, bukannya tambah malas. Ya Allah, kuatkan hambaMu.

Pesawat check in jam 06.00 petang. Saya bangun terlambat pukul 10.00 pagi lalu mandi terus sarapan roti prata. Sambil sarapan saya ngobrol dengan saudara saya di sana tentang banyak hal. Subhanallah.. saya merasa tak sendiri di sini.

Hari itu saya mau membeli oleh-oleh untuk kawan-kawan di asrama. “Biar tidak kempunan” kata orang Melayu. Saya memutuskan untuk membeli oleh-oleh kue di Orchard road. Karena di sana terkenal sekali sebagai pusat oleh-oleh. Walau harganya relatif mahal.

Sebelum ke Orchard, saya menyempatkan diri ke Sentosa island. Ingin rasanya saya menghabiskan waktu saya bermain di sana. Namun tidak kali. Waktunya belum tepat. Sehingga saya hanya berjalan-jalan di seputaran Sentosa lalu kembali ke Singapore. Waktu itu hari hujan lebat. Banyak sekali turis-turis dari berbagai belahan dunia berkunjung ke sana. Selama saya di sana, saya berdoa semoga suatu hari nanti saya bisa kembali lagi ke sini dan menikmati semua wahana-wahana yang ada bersama adik-adik saya. Semoga saja, aamiin.

Universal Studio Singapore
Universal Studio Singapore

Setelah berjalan-jalan sejenak di pinggiran pulau Sentosa, saya kembali lagi ke Singapore terus ke Orchard. Di sana adalah surganya para pejalan kaki. Tidak pernah saya senang berjalan kaki di suatu kota seperti ini. Mudah-mudahan kota-kota di Indonesia bisa mencontoh negara cabe rawit ini.

Di sepanjang Orchard Road ini saya berjalan menikmati atmosfer pasca hujan sambil menikmati ice cream sandwich. Ice cream sandwich disediakan dengan roti bantal atau wafer dengan berbagai rasa seperti coklat, strawberry, blueberry, manggo, dll. Ice cream sandwich ini sebenarnya jajanan saya waktu SD. Sudah lama sekali saya tidak mencicipinya lagi. Di sini, ice cream sandwich dijual oleh apek-apek -sebutan untuk orang cina paruh baya- dengan gerobak motornya.

apek-apek penjual Ice cream sandwich one dollar.
apek-apek penjual Ice cream sandwich one dollar.

Saya lantas mencari pusat penjualan oleh-oleh. Di Lucky Plasa saya menemukan roti yang bentuknya persis sama dengan Merlion dengan berbagai macam rasa seharga empat dollar. Saya beli tiga untuk oleh-oleh anak asrama. Mudah-mudahan mereka suka.

 

Jajanan samasa SD. Sedaap..
Jajanan samasa SD. Sedaap..

Setelah oleh-oleh ada di tangan, saya lalu pulang kembali ke Boon Lay untuk sholat sekaligus pamit. Dari Orchard ke Boon Lay saya harus dua kali naik MRT dan jaraknya sangat jauh. Satu jam penuh saya habiskan di dalam MRT sambil merem. #IUKWIM

Setelah sampai di Jurong Point, stasiun Boon Lay, saya lalu putar-putar mencari makanan buat lunch. Saya lalu tiba di Little Osaka. Satu mall itu isinya jepang semua khususnya Osaka. Ada banyak makanan yang kelihatan enak-enak dan harganya pun sepadan. Saya pingin sekali membeli lalu mencicipinya. Tapi saya tidak melihat ada logo halal di tokonya. Saya juga tidak melihat satu pun orang melayu yang makan di sana. “Ga papalah, mudah-mudahan bisa makan makanan Osaka beneran di Osaka suatu saat nanti, aamiin.”

Little Osaka di Clementi Mall
Little Osaka di Clementi Mall
Halal ga ya?
Halal ga ya?

Yang kuah kuning itu manis banget..

 Yang kuah kuning itu manis banget..

Setelah mutar-mutar ke sana ke mari, saya lalu menemukan kedai penjual nasi briyani. Salah satu makanan favorit saya setelah nasi padang. Nasi briyani adalah masakan khas India dengan nasi yang kaya rempah dan disediakan tiga kuah, yaitu: kuah curry, kuah kaldu, dan kuah manis. Hah, manis? Ya, manis. Nasi briyani juga dihidangkan dengan roti tawar mirip roti maryam yang kita makan kalau kita umroh ke Mekkah.

Setelah perut senak (kenyang berlebihan dalam bahasa melayu), saya langsung cabut via SRT (bus) ke Boon Lay Drive untuk sholat dan pamit dengan saudara di sana. Setelah itu saya kembali lagi ke Jurong Point untuk naik MRT ke Changi Airport. Jarak dari Boon Lay ke Changi adalah satu jam. Karena Boon Lay itu terletak di Barat Singapura dan Changi itu letaknya di Timur Singapura.

Kapan ya bandara Indonesia punya MRT?
Kapan ya bandara Indonesia punya MRT?
Di dalam Changi Airport
Di dalam Changi Airport
Setelah check ini, saya keliling2 untuk membunuh waktu.
Setelah check ini, saya keliling2 untuk membunuh waktu.

Setibanya di Changi, saya check in dan menunggu sejam untuk boarding. Waktu satu jam itu saya manfaatkan untuk keliling bandara yang SUPER BESAR itu. Walau sejam pun rasanya tak cukup kalau mau mengelilinginya. Changi Airport adalah kombinasi antara bandara dan mall. Banyak produk-produk kelas dunia ditawarkan di sana. Sampai-sampai saya berpikir, “Siapalah yang mau beli? Kita kan ke sini untuk terbang.” Namun, begitulah strategi marketing pihak Singapura. Di setiap sudutnya, selalu terdapat tempat perbelanjaan. Mungkin itulah penyumbang devisa negara mereka yang terbesar. Oh, iya, di Changi Airport terdapat WiFi yang super cepat dan gratis. Juga terdapat komputer gratis di sana. Jadi, saya bisa menghubungi kerabat via internet dan bisa update status tentunya, hehe, saya cuma bercanda :))

Advertisements

One thought on “44 Jam di Singapura – Waktunya Melanjutkan Perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s