In dilemma

Pagi itu masih gelap gulita. Setelah terbangun dari “pingsanku,” tidak seperti biasanya, aku bisa sholat malam dengan tenang lalu dilanjutkan dengan sholat shubuh. Setelah selesai berkeluh-kesah kepada Sang Pencipta, aku bangkit lalu duduk di meja belajarku yang reot lalu membuka lembar demi lembar firman-firman Tuhan yang disampaikan kepada seluruh umat manusia.

Pada saat bibir ini terbata-bata membaca kalimat-kalimat suci, tiba-tiba pintu kamarku digedor keras sekali.

“Duk, duk, duk!!”

Belum satu halaman, aku berhenti lalu menuju ke arah pintu. Ku pikir ada apa? “Apakah aku membuat suatu kesalahan?” begitu pikirku ketika hendak membukakan pintu. Soalnya jarang-jarang si pemilik kos mengetuk pintu anak kos yang tinggal di rumahnya. Kalau tidak si pemilik kos minta tolong, ngasi sarapan pagi, sampai nanya-nanya yang tidak jelas.

“Cekreek..” suara pintu kamar kosku ku buka.

“Ini ada kiriman.” ujar sang pemilik kos

“Oh, iya, mas. Makasih” Jawabku sambil mengambil paket dari tangan si Mas.

“Ini ada paket ya? Dari mana? Dari Jepang??”

Rupanya, sang pemilik kos kepo kuadrat tentang isi paket saya itu. Paket itu rupanya sampai ke tempat saya kemarin sore. Tapi karena saya seharian sibuk di luar, sang pemilik kos menyerahkan kepada saya esok harinya.

“Hehe, iya mas..” Jawab saya sambil senyum-senyum.

“Makasih mas.” Lalu saya menutup pintu saya.

Sesuai prediksi saya, ini adalah paket dari Waseda University. Tanpa peduli, saya letakkan paket itu di sebelah Quran saya lalu saya lanjut membaca. Setelah selesai, lalu saya sobek perlahan paket yang terbungkus rapi itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen-dokumen penting. Saya ambil perlahan-lahan sambil menghirup semerbak atmosfir Tokyo yang ikut terbungkus di dalamnya. Mata saya membaca kalimat demi kalimat di dokumen itu. Saya lihat “surat cinta” dari Hiroshi Yamakawa. Dan ternyata.. Alhamdulillah, saya diterima di Faculty of Science and Engineering, Waseda University. Luar biasa..

Saya buka lembar berikutnya. Saya lihat nomor-nomor peserta yang lulus tes. Ternyata dari sebanyak-banyaknya yang ikut tes yang saya tidak tahu berapa jumlahnya, saya termasuk satu dari dua puluh lima orang yang beruntung di terima di Waseda.

Keesokan harinya, saya beri tahu kepada keluarga di rumah. Mereka bangga dan meridhoi saya untuk kuliah di Jepang. Namun ada satu hal yang harus dipertimbangkan matang-matang. Biaya kuliah. Memang saya mendapat potongan 50% dari biaya kuliah dan nantinya akan mendapat uang saku sebesar 48.000 Yen. Namun, rasa-rasanya itu belum dan seperti bertaruh “bunuh diri.” Sama seperti paradigma orang Indonesia yang akan kuliah ke luar negeri, mereka ingin mendapatkan beasiswa penuh dan tidak ingin merepotkan keluarganya sedikit pun. Saya pun demikian. Setelah berpikir ke depan, saya memutuskan untuk mengajukan beasiswa penuh. Ini adalah bagian yang lebih berat dari sekedar di terima di kampus terbaik Jepang. Saya akan melobi dan meminta mereka mempertimbangkan untuk memberikan beasiswa penuh kepada saya. Walau pun agak sulit tapi saya tidak boleh menyerah. Saya mohon doakan saya kepada siapa pun yang membaca tulisan ini. Mudah-mudahan Tuhan melimpahkan rezekinya kepada saudara, aamiin.

Last but not least, in shaa Allah, jika saya mendapat beasiswa penuh di Waseda, in shaa Allah saya akan terbang ke Jepang September ini. Namun, jika rezekinya ada di tempat lain, in shaa Allah saya akan terbang ke Jepang Oktober ini. Saya mohon doanya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s