Coretan Semangat

Saya sangat mencintai negeri ini, Indonesia. Indonesia dianugerahi begitu banyak kekayaan sumber daya alam yang melimpah oleh Tuhan. Indonesia pada jaman dahulu selalu dijajah oleh bangsa-bangsa lain dan selalu bergantung kepada mereka. Indonesia kini sudah merdeka, namun ketergantungan kepada negara-negara lain itu masih ada walau perlahan-lahan mulai berkurang. Indonesia yang sudah enam puluh delapan tahun merdeka ini seharusnya bisa menjadi negara super seperti Jepang dan Amerika. Namun jalan untuk ke sana rasanya masih jauh. Ditengah jutaan manusia yang memadati pulau-pulau Indonesia ini, masih banyak kemiskinan dan kebodohan yang harus dimusnahkan.

Sebagai pemuda yang akan memimpin negara ini kelak di Indonesia Emas 2045, seratus tahun pasca kemerdekaan Indonesia, saya akan melakukan apapun untuk kemajuan bangsa yang tercinta ini. Jika saya ditanya, “Mau dijadikan apa Indonesia pada 2045 nanti?” Saya dengan tegas menjawab, “Saya ingin Indonesia sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia, salah satunya Jepang.” Kenapa Jepang? Bukannya saya mengagung-agungkan Negara Matahari Terbit itu, tetapi Jepang sangat positif jika dijadikan contoh. Semangat etos kerja yang tinggi, bangga dengan budaya sendiri, dan kemajuan teknologi yang begitu canggih patut ditiru oleh seluruh bangsa Indonesia. Lihatlah, semua produk ciptaan Jepang ada semua di Indonesia, mulai dari peralatan elektronik, mobil, sepeda motor, sampai kereta buatan Jepang ada di sini. Sepertinya hampir tidak ada teknologi hasil ciptaan bangsa Indonesia sendiri. Tidak salah jika saya bercita-cita untuk belajar sampai ke Jepang.

Perlahan-lahan kekayaan Sumber Daya Alam Indonesia akan habis. Indonesia tidak boleh terlalu bergantung lagi kepadanya. Indonesia harus mengoptimalkan Sumber Daya Manusianya. Indonesia memiliki masa depan yang cerah untuk energi terbarukan. Indonesia memiliki geothermal terbaik di dunia, Indonesia juga bisa mengoptimalkan energi laut maupun nuklir. Namun begitu, Indonesia masih kekurangan di teknologi dan sumber daya manusianya. Ini merupakan pekerjaan rumah yang besar bagi kita, terutama para pemuda Indonesia.

Indonesia memiliki pribadi yang tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Sebagai orang Indonesia, saya bercita-cita untuk belajar sampai ke Jepang. Negara hebat dengan kemajuan teknologinya. Selain itu, kekayaan budaya Jepang akan sangat Indah untuk dipelajari. Saya juga bermaksud untuk menjadi jembatan yang kokoh antara Indonesia dan Jepang. Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh demi kemajuan bangsa Indonesia. Saya akan belajar ke School of Engineering. Kenapa engineering? Karena saya berpikir bahwa dengan menguasai ilmu engineering, nantinya saya bukan hanya dapat memanfaatkan teknologi yang sudah ada, tetapi juga menciptakan teknologi baru yang lebih baik. Hal itu bukan hanya menguntungkan Indonesia sendiri, tetapi negara-negara lain juga akan mengambil manfaat bersama mengingat ilmu merupakan kunci kemajuan suatu bangsa yang harus diberikan kepada yang lain. Dengan menguasai ilmu di engineering, dengan kekuatan di kedua sisi, sumber daya alam dan sumber daya manusia, Indonesia akan mampu meraih Indonesia Emas di 2045 ini.

 

 

Advertisements

Ayah Ibu Belum Bisa Naik Haji? Masak 75 Juta Aja Ga Punya?! Kemane Aje Lo??

Tulisan ini saya tujukan untuk anak yang orang tuanya belum kunjung berangkat haji karena alasan ekonomi. Bagi anak yang orang tuanya sudah berangkat haji, saya mengucapkan syukur alhamdulillah dan mari sama-sama mendoakan agar kita semua dapat berangkat haji, aamiin.

 

 

 

Naik haji? Ya, naik haji. Siapa sih yang tidak mau naik haji? Berkunjung ke rumah Allah adalah impian bagi 1,5 milyar muslim di seluruh dunia. Namun yang saya bahas di sini adalah naik haji bagi orang tua kita.

Well, pernahkah kalian berpikir berapa ratus juta yang orang tua habiskan untuk mengurus dan membiayai kalian dari kecil? Nah, jumlah biaya itu dikalikan dengan jumlah adik beradik kalian. Kalau kalian tiga beradik (misalnya punya dua orang adik), ya dikali tiga. Mari kita sedikit berhitung disini. Taruhlah biaya hidup seorang anak itu Rp 1.000.000 per bulan mulai dari biaya makan, baju, rumah, sekolah, dll. Kita pukul rata saja biaya hidup pada semua umur dan semua jenjang pendidikan yang ditempuhnya untuk mempermudah perhitungan. Lalu Rp.1.000.000 dikali 12 bulan adalah Rp 12.000.000 per tahunnya. Misalnya saya meminta uang pada orang tua sampai usia 20 tahun. Itu artinya Rp 12.000.000 dikali 20 sama dengan Rp 240.000.000. Jika saya tiga bersaudara maka dikali 3 sehingga menjadi Rp 720.000.000 per dua puluh tahun yang harus orang tua keluarkan untuk anak-anaknya. Itu hanya perhitungan bruto terlepas dari biaya sekunder seperti jalan-jalan, beli gadget, tambahan biaya pendidikan, rumah sakit, dll. Mungkin jumlahnya akan lebih banyak lagi.

Back to the topic. Berapa sih biaya haji untuk satu orang? Well, terakhir saya cek di peraturan presiden (perpres) biaya tentang penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) pada tahun 2013 adalah 34,3 juta rupiah. Sederhanakan saja 35 juta rupiah. Nah, sekarang baru kita masuk ke permalahan inti. Bayangkan dengan uang Rp 720.000.000 yang dimiliki orang tua kita, berapa kali oang tua kita bisa berangkat haji? Jawabannya bisa 20 kali! Bayangkan kalau orang tua kalian menelantarkan kalian pada waktu kalian masih kecil. Mungkin membuang kalian ke panti asuhan supaya tidak menambah beban kehidupan. Atau tidak membiayai pendidikan kalian. Atau tidak membiayai gadget kalian, uang pulsa kalian, uang internet kalian. Mungkin orang tua kalian sudah 20 kali pulang pergi haji. Onh plus pula.

Namun orang tua kita tidaklah seperti itu. Mereka rela mati-matian untuk keberhasilan kita di masa mendatang demi hidup yang lebih baik. Mereka rela mengayuh becaknya lebih cepat bagi tukang becak, menanam padi dan menggendong karung beras lebih banyak jika ia petani, atau melaut lebih lama jika dia nelayan. Atau yang kerja di perkantoran, orang tua kita akan berpikir lebih keras dan bekerja lebih giat. Bahkan ada yang sampai “menjilat” bosnya atau bahkan korupsi hanya untuk kepentingan anak-anaknya. Kalian pikir kenapa koruptor yang ditangkap KPK itu korupsi? Karena diri mereka sendiri? Tidak. Karena untuk kesenangan keluarganya! Tapi saya yakin, kalian yang membaca tulisan saya ini tidak seperti itu. Dan saya mendoakan agar kita semua terlepas dari yang namanya korupsi, amin ya rabbal alamin.

Nah, sekarang coba kalian renungkan kembali. Jika kalian tidak meminta gadget baru, laptop baru, sepeda motor atau mobil baru, membiayai pulsa internet kalian, atau lebih berhemat, mungkin orang tua kalian yang belum berangkat haji bisa berangkat haji, mungkin naik haji sekeluarga.

Oke, sekarang apa peran kita sebagai anak? Sudah diinvestasikan selama bertahun-tahun dalam jumlah besar masak tidak bisa memberikan balas budi sedikit pun? Oke, mungkin ada yang bilang “saya sudah bikin mama papa bangga dengan juara lomba ini itu.” Atau dengan berkata “saya sudah menjadi anak yang penurut dengan rajin membantu ibu menyapu di rumah.” Tapi itu semua belum cukup! Walau pun kalian melakukan apapun untuk membalas kebaikan kedua orang tua kalian  bahkan mengganti semua biaya hidup kalian dari lahir sampai dewasa, itu semua belum cukup! Orang tua kita tentu tidak akan bilang, “kembalikan uang saya selama kamu hidup di rumah ini” atau semacamnya.Tapi sebagai anak, kita harus membalasnya. Membalasnya dengan selalu berbuat baik kepada mereka dan mendoakan mereka. Sampai kapan? Sampai kita mati! Bahkan ketika orang tua kita sudah tiada, kita harus berbuat baik kepada mereka dengan mendoakan mereka. Buat yang orang tuanya masih hidup, hadiah terbesar yang bisa kita berikan kepada mereka (walau pun masih belum cukup) adalah dengan memberangkatkan haji kedua orang tua kita.

Nah, masalahnya adalah walaupun kita memiliki kelimpahan harta untuk memberangkatkan orang tua kita untuk naik haji, kita masih memiliki keterbatasan waktu untuk itu. Karena keterbatasan kuota, calon haji harus menunggu selama periode tertentu untuk bisa berangkat haji ke Mekah. Pertanyaan saya, apakah orang tua kita punya cukup waktu untuk menunggu waktu itu datang? Setahun, dua tahun, bahkan lima tahun. Apakah kita bisa menjamin bahwa orang tua kita akan hidup selamanya?! Are you insane??

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah 2:215

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ
السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Artinya: Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

Banyak kisah yang menceritakan tentang pemulung yang menabung selama 20 hanya untuk berangkat haji. Atau cerita tukang bubur yang bekerja mati-matian untuk membiayai ibunya naik haji. Masak sama mereka saja kita kalah?! Untuk itu, marilah kita bergegas dan mempercepat langkah kita untuk memberangkatkan haji kedua orang tua kita. Kita tak punya banyak waktu lagi. Soal maut hanya Allah lah yang tahu, bukan? Kita harus berpikir dan bekerja lebih keras dari sebelumnya. Gunakan kekuatan hati dan sekuat tenaga untuk mewujudkannya dengan segala waktu yang masih tersisa yang tak banyak ini. Dan tak lupa senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan jalan dan dimudahkan langkah untuk mencapai tujuan, amin ya rabbal alamin.

Tetap semangat dalam membahagiakan Ibu dan Ayah!

Wahai Pemuda! Hancur atau Jayanya Dunia Maritim Indonesia, Semua itu Bergantung di Kedua Tanganmu!

Saya membuat tulisan ini untuk mengikuti kompetisi Maritime Essay Competition (MEC) 2013 yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknologi Kelautan ITS.

Wahai Pemuda! Hancur atau Jayanya Dunia Maritim Indonesia, Semua itu Bergentung di Kedua Tanganmu!

Nenek moyangku orang pelaut

Gemar mengarung luas samudra

Menerjang ombak tiada takut

Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang

Ombak berdebur di tepi pantai

Pemuda b’rani bangkit sekarang

Ke laut kita beramai-ramai

Masih ingat dengan lagu di atas? Atau belum pernah mendengar lagunya? Itu merupakan lagu yang sering kita nyanyikan sewaktu di Taman Kanak-kanak atau pun Sekolah Dasar dulu. Apakah benar nenek moyang kita adalah seorang pelaut? Atau seorang petani? Apakah kita tahu pada tanggal 21 Agustus kita memperingati hari besar yang sangat berarti buat bangsa kita? Hari apakah itu? Yang jelas bukan hari kasih sayang atau pun hari kemerdekaan Indonesia tentunya. Pada setiap 21 Agustus kita memperingati hari maritim nasional. Namun sayangnya, hari maritim hanya diketahui segelintir orang saja. Memang, fenomenal hari maritim nasional seperti dikalahkan dengan hari kemerdekaan Indonesia.

Pada era perang kemerdekaan, empat hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, tepatnya tanggal 21 Agustus 1945, angkatan laut Republik Indonesia ketika itu berhasil mengalahkan tentara laut Jepang yang sudah menggunakan teknologi canggih. Mereka berhasil diusir dengan peralatan perang seadanya. Dengan peristiwa itu pemerintah menetapkan tanggal 21 Agustus sebagai hari maritim nasional.

Di samping Itu, sejarah sudah membuktikan bahwa nusantara atau Indonesia sangat disegani bangsa lain karena bukan hanya kekayaan dunia bawah lautnya, tapi juga kekuatan maritimnya. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit pernah menjadi kiblat di bidang maritim, kebudayaan dan agama di wilayah Asia. Namun, seiring dengan hadirnya Belanda sebagai penjajah pada abad ke-18, pamor nusantara sebagai negara maritim mulai pudar. Belanda melarang kerajaan-kerajaan untuk berdagang melalui laut dengan pihak lain. Belanda lebih mementingkan kegiatan agraris berupa perkebunan atau bercocok tanam, demi kepentingan mereka yang membutuhkan produk seperti rempah-rempah, teh, kopi, dan lain-lain.

Namun, dengan semangat kemaritiman yang masih melekat erat di DNA pada sejumlah orang Indonesia, akhirnya Indonesia tetap mampu mempertahankan kekuatan maritimnya sehingga dikenal dengan negara kepulauan. Meski pun, sektor kelautan diposisikan sebagai anak tiri dalam pembangunan ekonomi nasional dalam tiga dasawarsa terakhir.

Status negara kepulauan di dapat dengan perjalanan sejarah yang panjang. Diawali dengan Deklarasi Djuanda 1957 yang diakui sebagai kebijakan kelautan Indonesia yang pertama, Indonesia merasa kebijakan kelautan warisan kolonial sudah tidak sesuai lagi dengan konsep Tanah Air yang menekankan keterpaduan tanah dan air sebagai kekuatan nasional bangsa Indonesia. Butuh waktu dua puluh lima tahun untuk Indonesia dalam mendapat pengakuan dunia internasional sebagai negara kepulauan, yang kemudian dicantumkan dalam Bab IV Konvensi Hukum Laut (KHL) 1982. Sejak lahirnya KHL 1982, masyarakat internasional semakin menyadari pentingnya laut bagi kehidupan umat manusia. Namun, bagaimanakah dengan masyarakat Indonesia sendiri?

Tujuh puluh lima persen wilayah Indonesia adalah lautan. Panjang garis pantainya 80.791 km yang membentang sepanjang ekuator dan memiliki jumlah pulau lebih dari 17.000 menyimpan potensi sumber daya kelautan yang melimpah dan mempunyai arti strategis bagi pembangunan ekonomi nasional berbasis kelautan. Sebagaimana ditetapkan dalam UNCLOS 1982, Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat kaya akan keindahan dan kelimpahan sumber daya alam dunia bawah lautnya.

Kemudian kita bertanya-tanya, apakah rakyat Indonesia sejahtera dengan benar-benar memanfaatkan anugerah Tuhan tersebut? Saya rasa belum. Berbeda dengan negara lain yang pernah saya kunjungi seperti Amerika dan Singapura. Kehidupan daratan di tepi laut merupakan peradaban yang mewah dan elit. Banyak infrastuktur dan pusat-pusat perekonomian hidup di daerah pesisir. Banyak gedung-gedung tinggi, tempat wisata yang bersih nan indah, pelabuhan yang disibukkan dengan ratusan kapal yang lalu-lalang tiap harinya. Namun tidak di Indonesia. Masyarakat pesisir dikenal hampir sama dengan masyarakat kumuh. Peradaban elit dan perkotaan terletak di pusat daratan. Masyarakat pesisir sebagian besar miskin dikelilingi oleh nelayan-nelayan tua dan para pemuda yang enggan “terjun” ke lautan.

Sumbangan perikanan kita untuk Produk Domestik Bruto (PDB) hanya 15 persen. Bandingkan dengan Korea Selatan yang lebih sempit lautnya, mereka mampu menyumbang hingga 54 persen bagi PDB mereka. Indonesia kehilangan potensi ke lautan dan perikanan sejumlah Rp 40 triliun per tahunnya.

Di laut kita dapat menghasilkan ratusan triliun devisa dengan berbagai potensi energi terbarukan, masa habis 2 abad berupa gas hidrat dan gas biogenik serta energi-energi kelautan yang belum dimanfaatkan secara maksimal seperti pembangkit listrik tenaga gelombang laut. Potensi sumber daya hayati laut yaitu lebih dari 2.000 spesies ikan, lebih dari 80 genera terumbu karang atau sekitar 17,95 persen di dunia, 850 jenis sponge, padang lamun dan kimia terbanyak di dunia serta hutan mangrove menyimpan potensi 6,5 juta ton ikan, dapat dimanfaatkan nelayan 5,01 juta ton ikan di hamparan laut seluas 5,8 juta kilometer persegi. Tidak seperti Indonesia, negeri Jiran, Malaysia, banyak memanfaatkan potensi kelautan RI dengan meningkatkan penguasaan teknologi penangkapan perikanan sehingga Indonesia mengalami kerugian mencapai 100 milyar rupiah per tahun.

Sudah saatnya kejayaan maritim Indonesia harus dikembalikan. Cukup sudah kita kehilangan beberapa pulau terluar yang di klaim oleh negara tetangga seperti Pulau Sipadan dan Ligitan. Dan akhirnya pulau tersebut oleh ditetapkan menjadi milik Malaysia oleh Mahkamah Internasional dengan alasan ditelantarkan. Hal ini tidak terlepas dari lengahnya pengawasan maritim di wilayah nusantara. Jangan sampai hal tersebut terjadi juga di Pulau Sangihe Talaud yang berbatasan dengan Philipina. Demikian juga dengan Pulau Sebatik yang masih diperebutkan dengan Timor Timur. Dan pulau-pulau lainnya yang berada di wilayah luar Indonesia harus tetap dijaga dan dipertahankan. Tentunya dengan kekuatan armada laut yang handal.

Negara ini sudah ditakdirkan menjadi sebuah negara kepulauan terbesar di dunia. Seharusnya bangsa ini dibangun dengan menggunakan strategi maritim. Jika potensi maritim dioptimalkan, maka Negara Indonesia akan bangkit dari keterpurukan. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, salah satu masalah dasar pada optimalisasi pemanfaatan sumber daya kelautan adalah masih rendahnya sumber daya manusia di bidang kelautan dan perikanan. Pola pikir masyarakat tentang lautan seperti mimpi buruk. Mindset yang mengatakan bahwa bekerja di sektor maritim tidak akan sesukses di sektor daratan rupanya telah melekat kuat pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Tentu ada yang salah dengan pendidikan bahari di Indonesia.

Semua hanya terletak pada sudut pandang rakyat Indonesia pada dunia kemaritiman bangsa.

Tantangan terbesar saat ini ialah upaya apa yang harus dilakukan untuk membangkitkan semangat bahari bangsa Indonesia yang kini mulai pudar? Itu sulit untuk dijawab dalam waktu singkat. Menumbuhkembangkan semangat dan jati diri tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun, hal itu pasti bisa. Percayalah pada saya dan teman-teman mahasiswa seluruh Indonesia, terutama yang concern pada sektor kemaritiman. Memang semua butuh waktu, tapi secara perlahan, kita pasti bisa membuktikan kembali slogan “Jalesveva Jayamahe” yang artinya adalah “di lautan kita jaya.” Seperti Indonesia, Korea, yang sama-sama mengalami krisis moneter pada tahun 1997, mampu bangkit dan menjadi sepuluh negara terkaya di dunia. Salah satunya berkat canggihnya teknologi kemaritiman yang mereka gunakan serta eksploitasi sumber daya laut yang terarah. Indonesia yang masih tertidur di antara lautan emas seharusnya bangkit dan berkarya sebelum semuanya terlambat.

Untuk mencapai impian kita bersama, yaitu menjadi negara maju yang sejahtera, semua tidak lepas dari pendidikan. Kurikulum bangsa tentang pentingnya bahari Indonesia perlu dibenahi. Semua pihak harus menyadari Indonesia adalah negara kepulauan.  Pemerintah juga seharusnya menjadi regulator dan fasilitator yang baik dengan cara mengoptimalkan potensi kelautan dan perikanan Bumi Pertiwi. Bagaimana dengan para mahasiswa? Sebagai agent of change, mahasiswa harus bisa menjadi ujung tombak bangkitnya semangat maritim Indonesia.

Lantas, apa yang harus saya lakukan sebagai mahasiswa?

Mungkin itu menjadi pertanyaan di sebagian benak para mahasiswa. Jika saya menjadi anda, banyak hal yang bisa saya lakukan apalagi jika bersama-sama dengan mahasiswa lainnya. Diantaranya berperan aktif dalam mengangkat isu-isu kemaritiman terkini. Belajar dan beinovasi juga merupakan salah satu langkahnya. Siapa tahu, kelak, dengan gagasan atau teknologi hasil karya anak bangsa, terlepas dari apakah dia mahasiswa Fakultas Kelautan atau bukan, atau kah dia mahasiswa kedokteran sekali pun, mereka bisa membantu kemajuan kemaritiman bangsa Indonesia.

No matter how you gifted, you alone cannot change the world. Kita tak bisa sendirian untuk mengubah bangsa Ini. Bahkan, Pak B. J. Habibie butuh partner untuk membangun industri pesawat terbang di Indonesia. Begitu juga dengan kita. Bersama-sama dengan mahasiswa lain, kita dapat melakukan langkah besar yang lebih efektif. Seperti aktif di kegiatan Perhimpunan Mahasiswa Teknologi Kemaritiman Indonesia (PERHIMATEKMI). Kita juga bisa membuat komunitas sendiri atau memanfaatkan komunitas yang sudah ada, contohnya himpunan mahasiswa, untuk mengadakan kegiatan yang edukatif terhadap kelautan nasional. Misalnya pemeliharaan terumbu karang, bakti sosial mangrove, edukasi masyarakat nelayan, ikut menjaga kebersihan pantai, aktif mengontrol regulasi kelautan, dan banyak hal lainnya. Saya pikir, akan banyak ide-ide yang lebih brilian lagi untuk membangkitkan semangat bahari bangsa, salah satunya adalah terselenggaranya lomba menulis essay ini oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknologi Kelautan ITS. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesempatan ini.

Tak terasa, sebentar lagi Indonesia akan bertemu dengan 2045, satu abad kemerdekaan Indonesia. Apakah pada tahun itu keadaan kemaritiman bangsa masih sama seperti sekarang, lebih baik, atau pun menjadi lebih buruk? Semua itu bergantung pada pemuda masa kini yang kelak akan menentukan nasib bangsa kita. Jika semngat dan mindset yang baik tentang kemaritiman bangsa, dan adanya tekad yang kuat, saya yakin, Indonesia melalui momentum hari kemaritiman pada 21 Agustus yang lalu bisa bertransformasi menjadi negara kepulauan sejati. Sudah saatnya kejayaan emas nenek moyang pada masa dahulu terulang kembali dan menjadi lebih baik. Namun, pertanyaan terakhir saya, apakah nenek moyang kita benar-benar seorang pelaut? Hanya kalian lah yang mampu menjawabnya.

Referensi :

Kompas. 2008. Peran pemuda masih rendah. Dilihat pada 10 September 2013 pada laman http://nasional.kompas.com/read/2008/04/26/0012415.

Rmol. 2012. Hari Maritim Momentum Kembalinya Kesadaran Maritime Base Oriented dilihat pada 11 September 2013 pada http://www.rmol.co/read/2012/08/22/75495/Hari-Maritim-Momentum-Kembalinya-Kesadaran-Maritime-Base-Oriented-

Antara News. 2012. KKP Dorong Pemuda Berperan Aktif dalam Percepatan Industrialisasi Kelautan dan Perikanan. Dilihat pada 11 September 2013 pada http://www.antaranews.com/berita/347598/kkp-dorong-pemuda-berperan-aktif-dalam-percepatan-industrialisasi-kelautan-dan-perikanan

Image

Technopreneurs and entrepreneurs are an effective way in promoting the Indonesian economy.

 

Meet great people from all over the world in this century.

I submitted this paper in the ABAC Indonesian competition. Hopefully I can get into the top five. If I could, then I will be one step closer to my dream is to be a world-class CEO. Unimaginable I’ll meet great people from all over the world in this century. Thank you to anyone who has organized this writing competition. Thereby allowing us later to become directly involved in the APEC CEO Summit 2013. Then, wish me luck! And I will fly to Bali this October 🙂

APEC CEO Summit 2013 in Indonesia

Twenty-six days since this article was written, Indonesia as one of the members of the APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) was honored to host the big event this year, APEC CEO Summit 2013, which will be held in Bali, Indonesia. APEC theme that carried Indonesia is “Resilient Asia Pacific, Engines of Global Growth”. Theme in order is to meet the challenges of the world situation being under the influence of the world financial and economic crisis. Moreover, the theme is also to support the interests of Indonesia to discuss some of the important things, namely: Attaining the Bogor Goals (realizing the Bogor Goals), sustainable growth with Equity (achieving sustainable and equitable growth), and Promoting connectivity (strengthening connectivity).

Speaking about this year’s APEC CEO Summit, Indonesia demanded not only can save the global economy, but also to demonstrate the role of Indonesia as a member of the ABAC (APEC Business Advisory Council) are reliable. But this time I’m not going to talk much about the agenda of the APEC CEO Summit this year. I will discuss the role of youth-related momentum convening of the APEC CEO Summit 2013 in Bali.

Indonesia with a rich country but has people who suffer from poverty and ignorance. Undoubtedly, God-given wealth of nature in its beauty stretches from Sabang to Marauke. Indonesian somehow became a slave in her own home. The number of poor people in Indonesia in March of 2013, there were 28.07 million people. In the World Economic Forum in 2013 put Indonesia on the order of 38 among the Asia Pacific countries, far behind Singapore, perched at position 2. What makes the country an area of ​​710.2 km2 with almost no supply of natural resources can have a great economic power. We must not remain silent. We require accelerated structural transformation to take most of the population out of poverty. All of that cannot be separated from the responsibility of everyone, including the youth.

The youths must realize a number of fundamental problems faced by the nation and the state. Problems are included poverty, ignorance and backwardness that still exist in some of our communities. The youth should not only good at criticizing the state, but also have to be smart and look for an appropriate alternative most likely be implemented. The youth are agents of change this country.

According to leading economists, businessmen needed at least as much as 2% of the total population of a country to grow the economy of a country well. Currently, the number of successful entrepreneurs who can to move Indonesian economy reached 1.56% of the total population of 240 million, as many as 3.74 million. This means, stay a few percent longer to achieve developed country. For that let us build together entrepreneurship spirit as early as possible.

In the midst of the global economic crisis whose effects we still feel today. As well as inflation recently, which make economic concerns around the world. Western countries will need to start saving more, and developing countries should transition to growth driven by domestic demand rather than exports. This reflects the perception that there is no safe place anywhere in the global economy today, as we increasingly come to terms with the level of interdependence among countries in the world. On a more positive note, the realization of interdependence can spur determination to work together.

Indonesian society in order to change the paradigm of entrepreneurship would certainly not easy. But I’m sure, together we can. One is with Indonesia’s participation in the APEC CEO Summit 2013. Indonesia tries ABAC about providing a new space for the development of Small and Medium Enterprises (SMEs) through the APEC CEO Summit 2013.

Four main pillars to promote Small and Medium Enterprises (SMEs) that accelerates the growth of budding entrepreneurs (start-up), among others, to create a Start-Up Centre, strengthening access to finance is not limited to banks only; propose a more equitable use of technology, among others, to accelerate the credit approval and improve supply chain management, and encourage women to be more active role and contribute to the economy.

I strongly believe that one effective way to improve the economy of the nation in order to compete with countries other Asia Pacific is to develop SMEs to all Indonesian people. So, what is my role as a youth in Indonesia? Do not worry! Let us together with the other eighty million youth throughout Indonesia to work together in advancing the country.

Youth as the main character in technopreneurship.

Youth’s ability to innovate will be less than perfect if not packed with business skills based on an understanding of the identification of community needs. Able to touch the bottom layer of the society so as to create the concept technopreneurship will be the solution in economic development. Therefore, the youth as the main actor has absolute technopreneurship capital such as courage, knowledge, ingenuity and perseverance, skill and experience in entrepreneurship education curriculum systematically.

But the most fundamental thing that is changing the perspective or mindset of youth into technopreneurship mindset is the worldview to be a provider of employment by utilizing the resources of science and technology.

Then after that, then the next step is to explore innovation power possessed by the youth. There are 10 types of innovation that can be developed for technopreneurship everything is business model (Business Model), networking (Networking), the core (Core Process) process to finished goods (Enabling Process), the performance of the product (Product Performance), system product (Product System), service (service), media (Channel), and customer service (customer service).

Armed with 10 types of innovation are then compiled the roadmap was to be possessed by a successful technopreneurs which stems from technological innovations later owned technology incubation process (technology) and engineering technology.

So, in addition to having a great entrepreneur culture through SMEs, Indonesia also has a talented young teknopreneur. So the momentum of the APEC CEO Summit 2013 is not a vain thing. Hopefully, in this moment, Indonesia can advance not only the nation’s economy, but also the world economy, aamiin.

 

 

Surabaya, September 8, 2013.

Muhammad Ilham Azlan Syah

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

 

 

 

 

 

References:

Wikipedia (2013). Singapura. Retrieved September 8, 2013 from http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura

World Economic Forum (2013). The Global Competitiveness Report 2013-2014. Retrieved September 8, 2013 from http://www3.weforum.org/docs/WEF_GlobalCompetitivenessReport_2013-14.pdf

Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kab. Banyumas (2012). Pengusaha Sukses di Indonesia Capai 4,8 Juta di 2014. Retrieved September 8, 2013 from http://dinperindagkop-banyumaskab.net/index.php?route=news/news&news_id=17

World Economic Forum (2012). ASEAN countries’ performance in the 12 pillars of the Global Competitiveness Index 2012-2013. Retrieved September 8, 2013 from  http://www.weforum.org/issues/competitiveness-0/gci2012-data-platform/

Badan Pusat Statistik (2012). Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Provinsi, September 2012. Retrieved September 8, 2013 from http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=23&notab=1

Badan Pusat Statistik (2013). PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2013. Retrieved September 8, 2013 from http://www.bps.go.id/brs_file/kemiskinan_01jul13.pdf

APEC (2013). Towards Resilience and Growth Reshaping Priorities for Global Economy. Retrieved September 6, 2013 from http://www.apec2013ceosummit.com/about-overview.html

ABAC (2013). The APEC Business Advisory Council. Retrieved September 6, 2013 from https://www.abaconline.org/v4/content.php?ContentID=22610251